Kisah Sukses : BAMBANG N. RACHMADI - McDonald’s Indonesia
by - 08/09/2010
""
Suatu malam di penghujung tahun 1989, di sebuah restoran
McDonald’s di kawasan Orchard Road, Singapura, seorang lelaki bertubuh
subur tampak sedang membersihkan meja. Dengan seragam T-shirt
bergaris-garis merah yang agak kesempitan dan topi berlabel M khas
McDonald’s, lelaki yang tak lain adalah Bambang Rachmadi, mantan
presdir Panin Bank tadi tampak serius bekerja. Jatuh miskinkah ia? Bisa
jadi. Karena, setelah mengundurkan diri dari kursi puncak Panin Bank
pada November 1988, nama Bambang nyaris tenggelam. Bila setahun
kemudian banyak pengusaha Indonesia melihatnya tiba-tiba menjadi
pekerja kasar di jaringan fast-food terbesar di dunia itu, orang pun
bertanya-tanya. Repotnya, Bambang tak bisa menjelaskan apa yang
sedang ia lakukan. “Soalnya, saya mesti jaga rahasia. Saya nggak ingin
pers Indonesia tahu, sehingga membuat McD batal memberikan lisensinya
kepada saya,” ucap menantu mantan Wapres Sudharmono, yang kini
managing director PT Ramako Gerbangmas, pemilik dan pengelola
jaringan restoran McDonald’s Indonesia. Kehati-hatian Tonny--sapaan
akrab Bambang-- memang wajar. Karena, McD adalah satu-satunya
taruhan Tonny setelah keluar dari Panin. Apalagi, ia harus menunggu satu
tahun setelah memasukkan aplikasi hanya untuk bisa dipanggil mengikuti
pelatihan.
Setelah satu tahun menegangkan, datanglah keputusan bahwa ia
boleh mengikuti pelatihan. Tempat pelatihan pertama sengaja dipilih di
Singapura. “Karena di sana banyak orang Indonesia, sehingga pressurenya
lebih tinggi,” kata lelaki yang gemar naik motor gede ini. Dan benar,
selama tiga bulan pertama pelatihan di mana Tonny harus berseragam
pelayan, ia selalu bertemu kenalannya dari Indonesia. Selain pelatihan
yang bentuknya nonmanajerial, Tonny juga diuji bekerja selama 18 jam
nonstop. Dari situ akan terlihat seseorang memiliki bakat melayani atau
tidak. Karena, pada jam-jam pertama barangkali orang masih bisa
bersikap manis. Tapi, bila telah masuk jam ke-8 dan seterusnya, maka
tingkat kelelahan dan stresnya sudah tinggi, hilanglah sikap manis.
“Biasanya banyak yang nggak lulus di sini,” ucap Tonny, lalu tertawa.
Pelatihan di Singapura yang disebut On the Job Experience (OJE) itu,
bukanlah lampu hijau untuk memperoleh lisensi McD. OJE adalah
semacam tes awal bagi pelamar. Tapi, itulah tes yang paling berat.
Karena,, dalam latihan kerja sebagai pelayan, seperti melap meja,
membersihkan toilet serta menjadi tukang parkir nilah para pelamar
banyak yang gugur. Tonny yang sebelumnya tak pernah mengepel lantai,
apalagi membersihkan kamar mandi, terpaksa melakukan semua
pekerjaan yang dalam istilah Tonny: ’pekerjaan tanpa otak’ itu dengan
hati lapang. Walau seringkali harus menerima bentakan dan mengulangi
hasil kerjanya, lantaran dinilai kurang bersih, misalnya. Hasilnya memang
memuaskan. Ia berhasil meninggalkan 39 pelamar dan mengalahkan tiga
kandidat.
Dari pelatihan “kuli” tadi, baru Tonny digodok di Sekolah milik
McDonald, yaitu McDonalds Corporation Hamburger University selama
satu tahun. Sekolah itu mendidik para calon store manager McD
Apa yang diharapkan Tonny akhirnya terwujud juga. Pada Februari
1991, restoran McD milik Tonny resmi dibuka di Gedung Sarinah, Jalan
MH Thamrin, Jakarta. Pembukaan outlet McD pertama di Indonesia itu,
sekaligus menjawab pertanyaan tentang menghilangnya Tonny selama
2,5 tahun dari dunia bisnis Indonesia. Restoran itu juga merupakan buah
dari perjuangan Tonny selama hampir tiga tahun. Dia adalah salah satu
dari 13.000 orang Indonesia yang melamar ke McD selama 10 tahun
terakhir ini.
Memperoleh lisensi McD adalah tantangan yang tak mudah. Paling
tidak terlihat dari daftar pelamar dari Indonesia.selama 10 tahun terakhir
ini, dan belum ada satu pun yang berhasil. Yang lebih berat lagi, konon,
McD tak menginginkan mitra kerja yang tidak memberikan komitmen
100%. Itulah sebabnya pada September 1988, ia memilih mengundurkan
diri dari Panin, hanya dengan satu cita-cita: memperoleh lisensi McD.
Pada saat itu memang terkesan Tonny mempertaruhkan seluruh kariernya
yang hampir 14 tahun di dunia perbankan. Padahal, keinginannya untuk
menjadi pemegang lisensi McD Indonesia belum tentu tercapai. “Kalau
waktu itu saya nggak dapat McD, ya saya harus siap mulai lagi,”
kenangnya. Setelah bebas dari Panin, ia mulai mengurus permohonannya
ke McD. Menanti sesuatu yang belum pasti selama setahun, sangat
menegangkan bagi Tonny. Karena itu, ia selalu berusaha berkomunikasi
dengan McD Pusat. “Paling tidak seminggu sekali saya berusaha
menelepon mereka sekadar just to say hello,” ucap lelaki yang pernah
diusir dan diperlakukan kasar ketika mencoba mengunjungi McD Pusat ini.
Tersinggung? Tidak. Sebab ia sadar betul bahwa semua yang ia lakukan
dengan satu tujuan, “Saya harus menunjukkan bahwa saya sangat
menginginkan.”
Menurut Tonny, McD adalah pemberi lisensi yang cukup ketat dalam
menyeleksi calon mitra kerjanya. Konon, sebelum memilih Tonny, pihak
McD ingin mengenal secara dekat keluarga besar Tonny. “Mereka ingin
tahu bagaimana latar belakang dan kehidupan keluarga kami,” jelasnya.
Karena, McD menginginkan bisnis ini bisa diteruskan oleh anak-anak
Tonny. Bahkan, dalam salah satu kontrak yang harus disepakati setelah
lisensi diberikan, McD mesti mengetahui segala persoalan yang terjadi
dalam manajemen PT Ramako Gerbangmas (RG), sekalipun mereka tak
memiliki saham di situ. Hal ini disyaratkan, karena pihak MD tak
menginginkan kalau tiba-tiba saja saham RG berpindah tangan ke pihak
lain yang juga memiliki bisnis fast food merek lain, misalnya. MD juga
mensyaratkan bahwa pemilik saham mayoritas RG harus juga pemegang
kendali bisnisnya. Maksudnya, supaya orang yang mengambil keputusan
di bisnis ini nantinya adalah orang yang benar-benar menguasai
bidangnya. Maka, sejak awal pihak MD telah menanyakan kepada Tonny
maupun istrinya, tentang siapa yang akan menjadi Mr. atau Miss
McDonald’s.
Ide menjadi wirausaha bermula ketika ia mulai “bosan” menjadi pucuk
pimpinan di bank milik Mu’min Ali Gunawan. Padahal sebagai bankir,
karier Tonny tergolong pesat. Ia diangkat menjadi presdir Panin Bank
pada usia 35 tahun. Sejak 1971 hingga 1974, sambil menyelesaikan
kuliahnya di FHUI Extension, kelahiran Jakarta 41 tahun silam ini bekerja
di PT Cicero Indonesia. Setahun kemudian ia hijrah ke Bank Duta. Dari
bank tersebut ia memperoleh kesempatan belajar ke negeri Paman Sam.
Hasilnya pada 1978 ia berhasil menyabet dua gelar: MSc bidang
internasional banking & finance dari Saint Mary’s Graduate School of
Business Moraga, dan gelar MBA dari John F. Kennedy University Orinda,
keduanya di California. Dengan dua gelar itu, Tonny pulang ke tanah air
dan kembali ke Bank Duta pada 1978. Setelah sempat menjadi manajer
divisi operasi di kantor pusat, ia kemudian dikirim ke Surabaya sebagai
branch manager pada awal 1979. Setahun kemudian, ia dipromosikan
menjadi kepala divisi pemasaran. Dia meninggalkan posisinya di Bank
Duta sebagai managing director International Banking pada September
1986 untuk bergabung dengan Panin Bank. Sebagai orang nomor satu di
Panin Bank, ketika itu Tonny sempat melakukan beberapa pembenahan;
manakala kondisi Panin dikabarkan sedang tertimpa malapetaka. Menurut
harian The Asian Wall Street Journal, Bank Indonesia sampai
menggolongkan Panin dalam klasifikasi tidak sehat. Di tangan Tonny,
perlahan-lahan bank ini mulai melesat lagi. “Tapi yang lebih penting, bank
ini sekarang sudah dinyatakan sehat oleh BI,” ucap Tonny suatu ketika.
Kendati boleh dibilang Tonny cukup berhasil dalam mengemudikan Panin
Bank, toh kursi presdir malah membuatnya gerah. “Salah satu yang
mengganggu pikiran saya adalah karier saya di bank,” ucap Tonny dengan
lirih. Sebagai orang muda, ia merasa kariernya di perbankan sudah
mentok. Alasan yang lebih klasik lagi adalah sudah tak ada tantangan.
Dan ia ingin mencari tantangan di lahan yang lain. Apalagi, selama
menjadi bankir, Tonny lebih banyak berperan sebagai penasihat bagi
kalangan usaha. “Saya tergugah untuk membuktikan diri sebagai
pemain,” ucap lelaki yang bergabung dengan Panin Bank selama dua
tahun itu.
Tekadnya menjadi pengusaha sudah bulat. “Saya ingin jadi
pengusaha yang sukses,” katanya penuh semangat. Sebelum
mengundurkan diri dari Panin, ia telah melakukan survei tentang
beberapa bidang usaha yang potensi perkembangannya cukup bagus.
Walau dalam benaknya terlintas beberapa bidang usaha, toh industri
makananlah, menurut dia, yang paling pas baginya. Dan McDonald’s
adalah partner yang ia pilih. Alasannya, selama ini restoran McD cukup
bagus, dan hampir semua outlet-nya sukses. “Saya berketetapan harus
bisa memperoleh lisensi McD,” ucap bapak tiga anak yang rambutnya
sudah dua warna itu.
Hasil kerja keras Tonny selama 2,5 tahun diuji McD memang cukup
menakjubkan. Setidaknya, itu terlihat ketika restoran pertama McD
dibuka di Sarinah Jakarta. Begitu menggebrak pasar, Tonny mengklaim
bahwa setiap hari rata-rata terjadi empat ribu transaksi. Bahkan, majalah
Fortune edisi Oktober 1991 meramalkan penjualan outlet Tonny akan
menempati posisi teratas dari 12 ribu restoran McD di seluruh dunia. Kini,
sistem pelatihan yang pernah dialaminya, ia terapkan bagi semua calon
manajer di McD Indonesia. Setiap manajer yang ada di McD adalah orang
yang telah dilatih dari bawah. “Jadi nggak mungkin seseorang masuk
langsung jadi store manager,” ucap pengusaha yang suka berbusana
seadanya ini.
Setelah menjadi wirausaha dengan anak buah yang hampir 1.000
orang, masihkah ia berpikir untuk jadi bankir lagi? “Saat ini sih nggak,”
ucapnya serius. Tampaknya, saat ini Tonny lebih suka berkonsentrasi
mengembangkan kewirausahaannya ketimbang kembali jadi profesional.
Tapi, akhirnya Tonny tergoda juga untuk masuk ke bank lagi. Itu terjadi
ketika ia mengambil oper 73% saham Bank IFI pada tahun 1995.
“Sebagai pemegang saham, di Bank IFI saya hanya menjadi komisaris.
Saya tetap memegang McD. Komitmen saya penuh pada MD,” kata
Tonny. Ya, Tonny tentu tidak akan “nekat” menjadi pengelola bank lagi.
Dengan 42 outlet yang dimilikinya pada pertengahan 1996, McD
memberikan arus kas yang luas biasa bagi Tonny. Transaksi McD selalu
tunai. Siapa yang sudi melepas mesin kas seperti itu? Dengan memiliki
usaha sendiri minimal Tonny terbebas dari keharusan berpakaian rapi,
berdasi dan wangi. Kini Tonny sudah terbiasa mengenakaan pakaian
santai, mengendarai Harley Davidson untuk memonitor kelima outlet yang
tersebar di Jakarta. Hadirnya McD di Indonesia, ternyata tak cuma
menambah “gemuk” Tonny yang nyaris menyamai kegendutan mascot
McD saja. “Berat badan saya 70 kg,” ucapnya dengan mimik serius. “Itu
nggak pakai tangan, kaki dan kepala. Ha…ha…ha…,” ujar Tonny sambil
tertawa berderai. Yang jelas, Sarinah, gedung pertokoan bertingkat
pertama di Jakarta ini juga terimbas kesuksesan McD. Setelah McD
mangkal di situ Sarinah menjadi marak kembali. Itulah Tonny, satu di
antara segelintir profesional yang berani mengambil risiko. Melepaskan
atribut keprofesionalannya, kemudian memulai dari nol untuk menjadi
seorang wirausaha. Dan, berhasil! Kini dia memperoleh nama baru: Mr.
McDonald’s.
Sumber : Majalah SWA Edisi November 1992 disadur oleh Masud, Didin abidin,
Pergulatan Manajer Menuju Sukses, Media Elek Komputindo hal.21-29