Sentuhan tangannya mampu mengubah daerah rawa menjadi tempattempat
hiburan dan kawasan pemukiman yang nyaman. Kala orang belum
memahami yang namanya real estate, Ciputra dengan berani membangun
rumah-runah mewah. Ciputra, pelopor bisnis properti modern di Indonesia
itu memang pantas dijuluki ‘Bapak Real Estate Indonesia’.
Selain sebagai pendiri sekaligus ketua umum pertama REI (perhimpunan perusahaan
real estate Indonesia), ia juga orang Indonesia pertama yang dipercaya
menjadi World President FIaBCI, organisasi pengusaha realestate
internasional. Bagi para konsumen properti, nama Ciputra menjadi brand
yang menjanjikan kualitas produk, sekaligus prospek investasi yang
menguntungkan. Dan di kalangan pelaku bisnis properti, Ciputra identik
dengan raksasa bisnis yang sering menjadi rujukan, sekaligus pesaing.
Menurut Ciputra, fasilitas merupakan unsur ketiga dari 10 faktor yang
menentukan kepuasan pelanggan. ”Konsumen harus dipuaskan dengan
pengadaan fasilitas umum dan fasilitas sosial selengkapnya. Tapi, fasilitas
itu tidak harus dibangun sekaligus pada tahap awal pengembangan.” Jika
fasilitas selengkapnya langsung dibangun, harga jual akan langsung
tinggi. Ini tidak akan memberikan keuntungan kepada para pembeli
pertama, selain juga merupakan risiko besar bagi pengembang.
Dalam perjalanannya, Ciputra mengukir beragam karya- besar.
Hampir semua subsektor properti dijamahnya. Ia kini mengendalikan lima
kelompok usaha Jaya, Metropolitan, Pondok Indah, Bumi Serpong Damai,
dan Ciputra Development yang masing-masing memiliki bisnis inti di
sektor properti. Sementara itu proyek kota barunya kini berjumlah 11
buah, tersebar di Jabotabek, Surabaya, dan di Vietnam dengan luas lahan
mencakup 20.000 hektar lebih. Ke-11 kota baru itu adalah Bumi Serpong
Damai, Pantai Indah Kapuk, Puri Jaya, Citraraya Kota Nuansa Seni, Kota
Taman Bintaro Jaya, Pondok Indah, Citra Indah, Kota Taman Metropolitan,
CitraRaya Surabaya, Kota Baru Sidoarjo, dan Citra Westlake City di Hanoi,
Vietnam. Proyek-proyek properti komersialnya, juga sangat berkelas dan
menjadi trend setter di bidangnya. Lebih dari itu, proyek-proyeknya juga
menjadi magnit bagi pertumbuhan wilayah di sekitarnya.
Perjalanan bisnis Ciputra dirintis sejak ia masih menjadi mahasiswa
arsitektur Institut Teknologi Bandung. Sekitar tahun 1957, Ciputra
bersama Ismail Sofyan dan Budi Brasali, teman kuliahnya, mendirikan PT
Daya Cipta. Dalam tempo singkat, biro arsitek milik ketiga mahasiswa
tersebut sudah memperoleh kontrak pekerjaan lumayan untuk masa itu,
dibandingkan perusahaan sejenis lainnya. Proyek yang mereka tangani
antara lain gedung bertingkat sebuah bank di Banda Aceh. Setelah lulus
dari ITB pada 1960, Ciputra bersama Ismail Sofyan dan Budi Brasali, pergi
ke Jakarta. Keputusan ini menjadi tonggak sejarah yang menentukan
jalan hidup Ciputra dan kedua rekannya. Proyek bergengsi yang ditembak
Ciputra adalah pembangunan pusat berbelanjaan di kawasan Senen.
Dengan bendera PT Perentjaja Djaja (PD), Ciputra berusaha menemui
Gubernur Jakarta ketika itu, Dr. R. Soemarno, untuk menawarkan
proposalnya. Gayung bersambut. Pertemuan dengan Soemarno kemudian
ditindaklanjuti dengan mendirikan PT Pembangunan Jaya, setelah terlebih
dahulu dirapatkan dengan Presiden Soekarno. Setelah pusat perbelanjaan
Senen, proyek monumental Ciputra di Jakarta selanjutnya adalah Taman
Impian Jaya Ancol dan Bintaro Jaya. Melalui perusahaan yang 40%
sahamnya dimiliki Pemda DKI inilah Ciputra menunjukkan kelasnya
sebagai entrepreneur; sekaligus profesional yang andal dalam
menghimpun sumber daya yang ada, menjadi kekuatan bisnis raksasa.
Grup Jaya yang didirikan pada 1961 dengan modal Rp10 juta, kini
memiliki total aset sekitar Rp 5 trilyun. Dengan didukung kemampuan
lobinya, Ciputra secara bertahap mengembangkan jaringan
perusahaannya di luar Jaya. Yakni, Grup Metropolitan, Grup Pondok
Indah, Grup Bumi Serpong Damai, dan Grup Ciputra. Jumlah seluruh anak
usaha dari kelima grup itu tentu di atas seratus, karena anak usaha Grup
Jaya saja 47 buah dan anak usaha Grup Metropolitan mencapai 54 buah.
Mengenai hal ini, secara berkelakar Ciputra mengatakan: ”Kalau anak kita
sepuluh, kita masih bisa mengingat namanya masing-masing. Tapi, kalau
lebih dari itu, bahkan jumlahnya pun susah diingat lagi,” katanya.
Ciputra memiliki saham di lima kelompok usaha ini. Dari kelima
kelompok usaha itu, Ciputra tidak menutupi bahwa sebenarnya ia
meletakkan loyalitasnya yang pertama kepada Jaya. Pertama, karena ia
hampir identik dengan Jaya. Dari sinilah jaringan bisnis propertinya
dimulai. Sejak perusahaan itu dibentuk pada 1961, Ciputra duduk dalam
jajaran direksinya selama 35 tahun: Tiga tahun pertama sebagai direktur
dan 32 tahun sebagai direktur utama, hingga ia mengundurkan diri pada
1996 lalu dan menjadi komisaris aktif. Kedua, adalah kenyataan bahwa
setelah Pemda DKI, Ciputra merupakan pemegang saham terbesar di
Jaya.
PT Metropolitan Development adalah perusahaannya yang ia bentuk
pada 1970 bersama Ismail Sofyan, Budi Brasali, dan beberapa mitra
lainnya. Kelompok usaha Ciputra ketiga adalah Grup Pondok Indah (PT
Metropolitan Kencana) ---usaha patungan antara PT Metropolitan
Development dan PT Waringin Kencana milik Sudwikatmono dan Sudono
Salim. Grup ini antara lain mengembangkan Perumahan Pondok Indah
dan Pantai Indah Kapuk. Kelompok usaha yang keempat adalah PT Bumi
Serpong Damai, yang didirikan awal 1980-an. Perusahaan ini merupakan
konsorsium 10 pengusaha terkemuka, antara lain Sudono Salim, Eka
Tjipta Widjaya, Sudwikatmono, Ciputra dan Grup Jaya yang
mengembangkan proyek Kota Mandiri Bumi Serpong Damai seluas 6.000
hektar; proyek jalan tol BSD; Bintaro Pondok Indah, dan lapangan golf
Damai Indah Golf. Grup Ciputra adalah kelompok usahanya yang kelima.
Grup usaha ini berawal dari PT Citra Habitat Indonesia, yang pada awal
1990 namanya diubah menjadi Ciputra Development (CD). Ciputra
menjadi dirutnya dan keenam jajaran direksinya diisi oleh anak serta
menantu Ciputra. Pertumbuhan Ciputra Development belakangan terasa
menonjol dibandingkan keempat kelompok usaha Ciputra lainnya. Dengan
usia paling muda, CD justru yang pertama go public di pasar modal pada
Maret 1994. Baru beberapa bulan kemudian Jaya Real properti menyusul.
Total aktiva CD pada Desember 1996 lalu berkisar Rp2,85 triliun, dengan
laba pada tahun yang sama mencapai Rp131,44 miliar. CD kini memiliki 4
proyek skala luas: Perumahan Citra 455 Ha, Citraraya Kota Nuansa Seni
di Tangerang seluas 1.000 Ha, Citraraya Surabaya 1.000 Ha, dan Citra
Indah Jonggol 1.000 Ha. Belum lagi proyek-proyek hotel dan mal yang
dikembangkannya, seperti Hotel dan Mal Ciputra, serta super blok seluas
14,5 hektar di Kuningan Jakarta. Grup Ciputra juga mengembangkan Citra
Westlake City seluas 400 hektar di Ho Chi Minh City, Vietnam.
Pembangunannya diproyeksikan selama 30 tahun dengan total investasi
US$2,5 miliar. Selain itu, CD juga menerjuni bisnis keuangan melalui
Bank Ciputra, dan bisnis broker melalui waralaba Century 21. Sejak
beberapa tahun lalu, Ciputra menyatakan kelima grup usahanya terutama
untuk proyek-proyek propertinya ke dalam sebuah aliansi pemasaran.
Aliansi itu semula diberi nama Sang Pelopor, tapi kini telah diubah
menjadi si Pengembang. “Nama Sang Pelopor terkesan arogan dan
berorientasi kepada kepentingan sendiri,” ujar Ciputra tentang perubahan
nama itu.
Sumber :Properti Indonesia, Top tokoh Properti Indonesia dan karya-karyanya tahun 1997