The PROFESSIONAL

- Info Lowongan Kerja -

Bahasa Indonesia English
  Home     Jual Beli Diskon     Forum     Beasiswa     Investasi     Profil    
Cari Lowongan Kerja  :

Login Pencari Kerja

Alamat Email

Kata Kunci




Lupa Kata Kunci ?

Pendaftaran

Upcoming Events



facebook lowongan kerja

twitter lowongan kerja

Blog Training On-Line Gratis

Info Lowongan Kerja

RSS Info Lowongan Kerja Terbaru

Jual Beli OnLine

Training On-Line Gratis



 
Detail Artikel
Daftar Artikel | Cari Artikel | Lebih banyak artikel tentang Kisah Sukses | Artikel lain yang ditulis oleh


Kisah Sukses : EKA TJIPTA WIJAYA

by - 08/09/2010
 
""
 
Siapa yang mengira konglomerat Eka Tjipta Wijaya dulunya orang
miskin. Perusahaan yang dimilikinya saja hampir 200 buah, dengan 70
ribu karyawan. Tapi,, itulah realitanya. Eka yang baru berusia sembilan
tahun. berangkat ke Makassar bersama ibunya pada 1932, menyusul
ayahnya yang sudah lebih dahulu tiba. ”Kami berlayar tujuh hari tujuh
malam. Lantaran miskin, kami hanya bisa tidur di tempat paling buruk di
kapal, di bawah kelas dek. Mau makan masakan enak, tak mampu. Ada
uang lima dollar, tetapi tak bisa dibelanjakan. Karena, untuk ke Indonesia
saja kami masih berutang pada rentenir, 150 dollar,” ungkap lelaki yang
lahir pada 3 Oktober 1923 ini.

Tiba di Makassar, Eka kecil yang masih bernama Oei Ek Tjhong,
segera membantu ayahnya di toko kecil yang dimilikinya. Tujuannya jelas,
segera mendapatkan 150 dollar guna dibayarkan kepada rentenir. Dua
tahun kemudian, utang itu terbayar, dan toko ayahnya maju. Eka pun
minta disekolahkan, tapi, menolak duduk di kelas satu.

Tamat SD, Eka tak bisa melanjutkan sekolahnya. Lagi-lagi karena
masalah ekonomi. Ia pun mulai berjualan, keliling kota Makassar,
menjajakan biskuit dan kembang gula. Hanya dua bulan, ia sudah mengail
laba Rp20, jumlah yang besar untuk masa itu. Ketika itu harga beras
masih 3-4 sen per kilogram. Melihat usahanya berkembang, Eka lmembeli
becak untuk mengangkut barangnya.

Namun, ketika usahanya tumbuh subur, datang Jepang menyerbu
Indonesia, termasuk ke Makassar. Usahanya hancur total dan ia
menganggur. Tak ada barang impor/ekspor yang bisa dijual. Keuntungan
Rp2.000 yang dikumpulkannya dengan susah payah selama beberapa
tahun, habis dibelanjakan untuk keperluan sehari-hari. Di tengah harapan
yang nyaris putus, Eka mengayuh sepeda bututnya, keliling kota
Makassar. Di Paotere (pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan
perahu terbesar di luar Jawa), ia melihat ratusan tentara Jepang sedang
mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Bukan tentara Jepang dan
Belanda itu yang menarik perhatian Eka, melainkan tumpukan terigu,
semen dan gula, yang masih dalam keadaan baik. Otak bisnis Eka segera
berputar. Secepatnya ia kembali ke rumah dan membuat persiapan untuk
membuka tenda di dekat lokasi itu. Rencananya, ia akan menjual
makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan
kerja tersebut.

Keesokan harinya, masih pukul empat subuh, Eka sudah berada di
Paotere. Ia membawa kopi; gula; kaleng bekas minyak tanah yang diisi
air; oven kecil berisi arang untuk membuat air panas; cangkir; sendok
dan sebagainya. Semua alat itu ia pinjam dari ibunya, termasuk enam
ekor ayam dipinjam dari ayahnya.. Ayam itu kemudian dipotong dan
dibikin ayam putih gosok garam. Dia juga meminjam masing-masing satu
botol whiskey, brandy dan anggur dari teman-temannya.

Jam tujuh pagi, Eka sudah siap berjualan. Tak lama kemudian, 30
orang Jepang dan tawanan Belanda mulai datang bekerja. Tapi, sampai
pukul sembilan, tak ada pengunjung. Eka berusaha mendekati bos
pasukan Jepang, lalu mentraktirnya makan dan minum di tenda. Setelah
mencicipi seperempat ayam komplit dengan kecap cuka dan bawang
putih, serta minum dua teguk whiskey gratis, si Jepang mengatakan,
joto. Setelah itu, semua anak buahnya dan tawanan diperbolehkan makan
serta minum di tenda Eka. Dan, Eka pun minta izin untuk mengangkat
semua barang yang sudah dibuang.

Ia pun mulai bekerja keras memilih apa yang dapat dipakai dan
dijual. Terigu misalnya, yang masih baik dipisahkan. Yang sudah keras
ditumbuk kembali dan dirawat sampai dapat dipakai lagi. Ia pun belajar
menjahit karung untuk kemasan barang-barangnya. Dalam keadaan
perang seperti itu, suplai bahan bangunan dan barang keperluan seharihari
memang sangat kurang. Karenanya. barang-barang yang ia peroleh
dari puing-puing itu menjadi sangat berharga. Terigu misalnya, semula
dijual Rp50 per karung, lalu dinaikkan menjadi Rp60, dan akhirnya Rp150.
Sedangkan semen dijual Rp 20 per karung, kemudian Rp40.

Naluri bisnis ayah delapan anak ini semakin berkembang. Saat
seorang kontraktor hendak membeli semennya untuk membuat kuburan
orang kaya. ia menolaknya. Eka kemudian beralih profesi menjadi
kontraktor pembuat kuburan orang kaya. Usaha ini berhenti, ketika
semen dan besi betonnya habis. Begitulah Eka. Selalu jeli melihat peluang
dan tak mengenal putus asa. Usai menjadi kontraktor, ia berdagang
kopra. Berhari-hari Eka berlayar ke Selayar (Selatan Sulsel) dan sentrasentra
kopra lainnya, untuk memperoleh kopra murah. Eka mereguk laba
besar, Tetapi, tiba-tiba Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli
minyak kelapa dikuasai oleh Mitsubishi yang membeli Rp1,80 per kaleng.
Padahal, di pasaran harganya Rp6 per kaleng. Eka rugi besar dan nyaris
bangkrut. Terpaksa ia mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu tengteng
(makanan khas Makassar yang terbuat dari gula merah dan kacang
tanah), wijen, serta kembang gula. Tapi ,ketika mulai berkibar, harga gula
jatuh, Eka kembali rugi besar. Modalnya habis, bahkan ia berutang. Untuk
menutup utangnya, ia terpaksa menjual mobil dan perhiasan keluarga,
termasuk cincin kawin. Tapi, Eka tetap tegar. Kali ini, ia mencoba bidang
leveransir dan aneka kebutuhan lainnya. Namun, usahanya masih jatuh
bangun. Ketika sudah berkibar pada 1950-an, muncul Permesta. Barang-barang
dagangannya, terutama kopra, habis dijarah oknum Permesta.
Modalnya habis lagi. Namun, Eka bangkit lagi, dan berdagang
lkembali.Jatuh bangun seolah merupakan hal biasa bagi Eka.
Usahanya baru benar-benar melesat dan tak pernah jatuh lagi
setelah masa Orde Baru. Era Orde Baru, menurut Eka, “memberi
kesejukan era usaha”. Pria bertangan dingin ini mampu membenahi aneka
usaha yang semula “tak ada apa-apanya”, menjadi “ada apa-apanya”
Bisnis Eka mulai merambah. Dari bisnis kertas, perbankan, perkebunan
dan pabrik kelapa sawit, perkebunan teh, pusat perdagangan, sampai
apartemen.

“Saya sungguh menyadari, saya bisa seperti sekarang karena Tuhan
Maha Baik. Saya sangat percaya Tuhan, dan selalu ingin menjadi hamba-
Nya yang baik,” katanya mengomentari semua suksesnya kini. “Kecuali
itu, hematlah,” tambahnya. Ia menyarankan, kalau hendak menjadi
pengusaha besar, belajarlah mengendalikan uang. Jangan laba hanya
Rp100, belanjanya Rp90. Dan kalau untung cuma Rp.200, jangan cobacoba
belanja Rp.210.

Setelah 58 tahun berbisnis dan bergelar konglomerat, Eka
mengatakan, ia pribadi sebenarnya sangat miskin. “Tiap memikirkan
utang berikut bunganya yang demikian besar, saya tak berani
menggunakan uang sembarangan. Ingin rehat susah, sebab waktu
terkuras untuk bisnis. Terasa benar tak ada waktu menggunakan uang
pribadi,” keluhnya. Mau makan makanan enak, lanjutnya, sulit karena
makanan enak rata-rata berkolesterol tinggi.

Inilah ironi, kata Eka. Dulu ia susah makan makanan enak karena
miskin. Kini ketika sudah “konglomerat” ia tetap susah makan enak,
karena takut kolestrol. Usianya yang hampir 86 tahun, menuntutnya
untuk menjaga kesehatan secara ketat dan prima.

Perusahaan yang dimilik Eka, di antaranya adalah pabrik kertas Tjiwi
Kimia, yang dibangun pada 1976;; Perkebunan dan pabrik kelapa sawit di
Riau; Lalu, perkebunan dan pabrik teh seluas 1.000 hektar; Bank
Internasional Indonesia (BII) yang dibeli pada 1982; pabrik pulp dan
kertas PT Indah Kiat Ia juga membangun ITC Mangga Dua; ruko;
apartemen lengkap dengan pusat perdagangan. Eka juga membangun
apartemen Green View di Roxy dan Ambassador di Kuningan.

Sumber : Banu Astono/Abun Sanda, Harian umum Kompas, Rabu 1 Februari 1995
 
comments powered by Disqus
  Home     About Us     Privacy     Terms & Conditions     FAQ     RSS Feed     SiteMap     Contact Us     Copyright © 2012